Barang siapa yang menghabiskan waktu berjam – jam lamanya untuk mengumpulkan harta kerana ditakutkan miskin, maka dialah sebenarnya orang yang miskin..

Jajat Awang Umbara

Sunset and sunrise always inspiring knocking the heart of my human being reminding me how small I am even time, is beyond our control we never know when will our time come smiling..

Albert Einstein

Ilmu pengetahuan tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan buta.

Jajat Awang Umbara

Sebuah seni dikatakan indah, karena kita mengetahui makna didalamnya, atau kita bisa mengambil inspirasi didalamnya.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 18 Mei 2012

Gerakan Anti Kemapanan

MEMPERHATIKAN fenomena sosial merupakan sebuah kenikmatan tersendiri bagi saya. Apalagi fenomena tersebut sangat dekat dengan kehidupan kita. Baik itu ketika saya berstatus sebagai pelajar, masyarakat biasa, ataupun kelak ketika saya menjadi pemimpin bangsa.

Gejala-gejala sosial yang sering kali terjadi di lingkungan kita patut mendapatkan sebuah perhatian khusus. Apakah itu menyangkut nilai dan norma masyarakat, konsensus masyarakat kekinian, ataupun gejala sosial yang berhubungan dengan perkembangan zaman yang berdampak pada perilaku sosial kita. Yang jelas, bagi kita yang konon dikatakan sebagai makhluk sosial haruslah memperoleh sebuah i'tibar, sebuah pelajaran terkait kontemplasi sosial yang kita dapatkan.

Banyak sekali produk kontemplasi yang saya dapatkan. umumnya kontemplasi tersebut merupakan perenungan jati diri saya sebagai civil societas. Mulai dari refleksi sosial tentang pengemis, gelandangan, anak jalanan, sampai dengan fenomena kasus asusila selebritis. Itu semua merupakan pelajaran yang harus didapatkan bagi kita sebagai insan sosial, kita jadikan semua fenomena yang terjadi sebagai glass-self atau cermin untuk mengukur kepedulian diri kita, sebagai bangsa indonesia, sebagai masyarakat sosial, sebagai masyarakat politik dan terlebih sebagai kaum muslim yang senantiasa harus mengedepankan konsepsi muamalah dalam mengarungi kehidupan ini.

Kali ini saya ingin berbagai refleksi sosial saya mengenai gerakan anti kemapanan hidup. Bolehlah saya katakan Nietzhe seorang filosof Jerman ia terkenal dengan gerakan amorpatinya, gerakan anti kemapanan bagi diri. Senantiasa mengkritik kekuasaan, kehidupan, dan keyakinan manusia. Ia tak pernah sekalipun merasa puas dengan kehidupan. Maka dari itu, baginya dunia tidaklah sebesar daun kelor. Ia hadir untuk mengkritik para pemelihara kehidupan yang lalai dengan kemapanan yang telah dicapai. Begitulah...

Ilustrasi: ist.Dan kini, saya menemukan sebuah gerakan anti kemapanan. Sebuah gerakan yang seringkali mendapat torehan citra negatif bagi orang disekitarnya, namun tak jarang pula banyak orang yang mengagumi gerakan anti kemapanan tersebut. ya... Punk Rock Jalanan. Bagi saya, perkembangan komunitas Punk Rock jalanan di Indonesia merupakan sebuah bukti konkret bahwasanya para elit kuasa di negara kita enggan untuk sesekali memperhatikan kondisi sekitar. Mereka senantiasa menyibukkan dirinya untuk mengatur siasat licik supaya kekuasaan yang telah ia capai bisa langgeng, kekal, abadi sampai kapanpun. Sampai ia bosan untuk mendudukinya lagi. Artinya mereka pro status quo. Mereka enggan sesekali memperhatikan kondisi para penerus bangsa yang saban hari semakin mengkhawatirkan. Gerakan anti kemapanan komunitas Punk Rock jalanan merupakan gerakan positif untuk mengatur lajur kebebasan hidup yang diusung para penguasa. Di dalamnya terdapat sebuah jiwa kepedulian yang tinggi terhadap sesama. Di dalam gerakan itu pula terkandung makna kebersamaan yang terbalut dalam ikatan emosional solidaritas hidup yang tinggi. Dan gerakan ini, secara sosial-kemasyarakatan merupakan gerakan yang patut menjadi teladan bagi kita, sebagai bangsa majemuk, sebagai bangsa beragam, dan sebagai umat Islam yang mencintai konsep silaturahmi dalam menjalin ukhuwah diri.

Kalau kita kaitkan gerakan sosial tersebut dengan konsep keIslaman, maka saya menemukan sebuah intisari kehidupan yang didalam pedoman suci Al-qur'an begitu jelas disebutkan. Sebuah konsep hidup kebersamaan yang menjadi tolok ukur keimanan sosial seorang muslim. Sebut saja misalnya ayat yang menerangkan tentang taawun (gerakan sosial tolong-menolong), bukankah Islam mengajarkan kepada kita semua untuk saling menolong terhadap sesama. Terlepas dari apakah ia muslim atau tidak. Yang jelas Allah menitahkan kita untuk saling menolong kapan pun dan di mana pun kita berada. Ini menunjukan betapa besar kapasitas kesalehan sosial yang harus kita capai dalam hidup kita, dan betapa besar pula Tuhan memperhatikan sosial kemasyarakatan kita. Begitupun dengan Punk Rock Jalanan, mereka senantiasa menjunjung tinggi kebersamaan, memegang erat persatuan, dan mengedepankan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Sebagai muslim, tidakkah kita malu?

Banyak di antara kita yang lantas lebih mementingkan kepentingan personal kita, lebih memprioritaskan egoisme kita demi mencapai apa yang kita inginkan. Tak peduli apakah teman atau kawan di sekitar kita menderita ataukah teraniaya. Yang penting kita senang.

Dan satu hal lagi, komunitas Punk Rock jalanan mengukuhkan dirinya sebagai pengkritik sosial yang enggan memapankan setiap kenikmatan dunia yang sesaat. Bagi mereka, penderitaaan bersama adalah sebuah kenikmatan agung dibanding kenikmatan personal. Dan kita, sebagai penikmat mereka, sudah sepantasnya merasa malu atas sikap individualitas yang kita miliki. Sudah sepatutnya kita mencerca diri kita atas keegoisan yang kita miliki. Dan tak sedikitpun kita berhak untuk mencaci apalagi mencap mereka sebagai gerakan kebodohan. Sebab, justru sikap egois kita lah yang menutup mata batin kita dengan segala kemapanan yang kita miliki. Mereka adalah pejuang, pahlawan jalanan, pengkritik kebebasan, dan penjunjung makna anti kemapanan yang tertinggi....

 JAYALAH PUNK ROCK JALANAN ......

Di copy dari
Ridwan Rustandi
Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam UIN SGD
Pemerhati Komunitas Punk Rock Jalanan Bandung(//rhs)

Kamis, 26 April 2012

Ska Berbalut Rock

Yang menginfluence musik mereka tidak hanya band Ska, karena masing-masing personil ERWE memiliki kesenangan musik yang berbeda. Menurut Luke, musik ERWE mengusung aliran Ska yang di mix dengan balutan nuansa Rock,

“Bukan berarti sok sangar, hanya biar terlihat lebih berenergi saja,” imbuhnya.
Lirik lagu band yang telah menelurkan tiga album ini paling banyak menceritakan tentang seputaran tragedi-tragedi manusia, tentang pertemanan, asmara, dan juga sosial. Satu di antara lagu ERWE yang populer di kalangan remaja Yogyakarta saat ini adalah ‘Radical Road Riders’ lagu bercerita tentang kegemaran bersepeda.

“Semua teman adalah teman baik, tanpa memandang genre apapun untuk bersepeda, lagu tersebut sedikit brutal tapi tetap murah senyum, dan kami juga ingin mengusung kota Yogyakarta sebagai kota sepeda,” ucap Luke menjelaskan lagu favoritnya tersebut.


                      

Ikon Musik Para Pesepeda

Radical Road Riders merupakan sebuah track di mini album ERWE yang bertitle (Error Without Emotion). Lagu ini cukup mencuri perhatian orang banyak, terutama bagi para pesepeda. Lagu yang bercerita tentang komunitas sepeda di Yogyakarta yang menamakan dirinya Radical Road Riders. Kesuksesan lagu ini membuat ERWE sering diminta untuk berpatisipasi di acara-acara sepeda, satu di antaranya pada event memperingati HUT Kota Yogyakarta, yang sekaligus juga meresmikan Jalan Mangkubumi menjadi "Mangkubumi Late Nite Bicycle Playground".

Di setiap Jumat akhir bulan, Jalan Mangkubumi menjadi milik para pesepeda. Pada malam peresmiannya Oktober 2011 lalu, Tugu menjadi lautan sepeda. Herry Zudianto selaku Walikota Yogyakarta saat itu yang meresmikan tempat ini.

“Berawal moment akbar ini, saya ingin memberikan sesuatu yang bisa dinikmati kaum pesepeda Jogja. saya dan ERWE mengubah lagu RRR menjadi JLFR (Jogja Last Friday Ride),” ucap w2k.

Di lagu yang telah diaransemen ulang ini juga mengajak rapper M2MX dari Jahanam (Hip Hop) untuk berkolaborasi. “Dengan lagu ini setidaknya momen JLFR termonumenisasi dengan karya lagu,” tambahnya.

ERWE betah dijalur indie

HINGGA saat ini mereka masih berjuang di jalur Indie, menurut W2k mereka tidak membatasi ruang gerak untuk ERWE, “Oke-oke saja kalau suatu saat nanti kita masuk Major Label, hanya saja selama ini, beberapa Label yang menawari kerjasama dengan kami belum ada yang cocok kontraknya, jadi kami masih mempertahankan untuk Indie,” kata vokalis yang juga pemilik warung susu SUSUatu ini lalu tertawa.

“Tapi jangan salah, Indie Juga berbahaya lho,” tegas W2k, karena sekarang masyarakat, khususnya anak muda sudah bisa memilih band yang menurut mereka bagus untuk di gandrungi, “Jadi band-band Indie nggak perlu takut kalah saing dengan major label. tinggal pembuktian karya saja, selama kita tekun dan berjuang maksimal, pasti mampu kok,” lanjutnya bersemangat.

W2k juga menjelaskan bahwa peran jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Myspace, Official Web, Youtube, dan lain-lain itu sangat membantu untuk melakukan promo bagi band-band Indie. Dengan media tersebut, ERWE bisa selalu berkomunikasi dan mengampanyekan banyak hal kepada para penggemarnya.

Boleh Chaos, Tapi Tanpa Emosi

KARENA keinginan untuk mengikuti seleksi festival band di sebuah universitas di Yogyakarta, Djati Pambudi Wibowo  yang akrab disapa W2k mengajak teman-temannya untuk membuat sebuah grup band. Musik yang mereka mainkan bergenre Ska Rock, dan mereka sepakat menamakan band kebanggaannya tersebut ERWE.

Banyak sekali pertanyaan tentang arti nama tersebut, menurut W2k  sebenarnya ERWE itu singkatan dari ‘Error Without Emotion’ yang bermakna perdamaian, hingga teman-teman mereka akrab menyebutnya dengan nama ERWE,
“Intinya boleh chaos, tapi tanpa emosi. Tapi banyak juga yang mengartikan sesuai keinginan mereka sendiri, ada yang mengartikan ERWE itu makanan hasil olahan dari daging anjing…hahahaha,” ujar W2k .

Menurut vokalis yang ini, awalnya personil band yang didirikan pada 8 Agustus 2003 ini sejumlah tujuh orang, dan mereka mengusung aliran Reggae Dance. Bongkar  pasang personilpun terjadi hingga formasi terakhir saat ini hanya tiga orang Djati Pambudi Wibowo / W2k  (Vokal/Gitar), Lukas Septa Indras Wibowo / Luke (Gitar), dan Fajar Hendra Setiawan (Drums). Di setiap pertunjukkannya mereka  dibantu oleh tiga musisi auditional di posisi Bass, Trumpet, dan Trombone.

“Menginjak album kedua, dan revolusi musik mulai berkembang, akhirnya kita menetapkan dan meng’ijab qobul’kan kalo ERWE adalah band Ska Rock, tujuannya ya agar bisa lebih meluas aja,” ucap W2k.

ERWE: Garap Video Klip Sendiri

Di era berkembangnya teknologi, tidak ada hal yang tidak mungkin bisa dilakukan. Bagi band indie, kini
banyak faktor yang dapat membantu kelancaran untuk berkarya, seperti situs-situs sosial yang telah ada. Salah satunya youtube yang dikenal sebagai situs yang menampilkan banyak karya video. Karena
Hal tersebut memacu ERWE untuk membuat video klip secara mandiri. “kini alat juga sudah semakin canggih, mudah di akses dan mudah nyari pinjamanya juga, haha..,” kata w2k tergelak.

Sebelumnya ada tiga video klip yang mereka produksi, diantaranya ‘Let’s Join Let’s Sing and Dance’, ‘Radical Road Riders’, dan ‘Jogja Last Friday Ride’.
Di awal tahun ini saja, ada dua klip yang sedang mereka rampungkan, keduanya merupakan lagu hits di album terbaru ERWE, yaitu ‘Gadis Malam’ dan ‘SSTI’, proses produksinya dibantu Backstage Heroes (crew ERWE).

Semua video tersebut pun disutradarai langsung oleh w2k sang vokalis. “Saat ini sedang dalam proses editing, ngeditnya juga kami kerjakan sendiri, namun sebagian dibantu oleh Erix (Endank Soekamti) yang ahli membuat special efek,” imbuhnya.
erweklip.jpg

The Secret of WAYANG


  Salah satu dari sekian banyak kesenian yang berasal dari tanah Jawa yang membutuhkan waktu semalam suntuk, apalagi kalau bukan "pagelaran wayang kulit dan wayang tengul atau golek". Sebenarnya wayang itu ada 3 macam, yaitu: wayang orang, wayang kulit, dan wayang tengul atau sering disebut dengan wayang golek. Sesuai dengan namanya, wayang orang dimainkan oleh orang asli, sedangkan wayang tengul atau wayang golek dimainkan oleh orang-orangan dari kayu yang dibuat oleh ahli pahat.



 


























Gambar diatas merupakan contoh dari penggambaran wayang tengul (kiri) dan wayang orang (kanan).
   
  Persamaan dari semua wayang tersebut adalah tentang cerita yang mengangkat dari kehidupan manusia aslinya. Penokohannya pun juga di sesuaikan dengan sifat manusia pada aslinya. Sifat wayang tersebut dapat dilihat dari ciri-ciri fisiknya, yaitu:

Ciri Hidung :
  1. Hidung Walmiring : kelihatan seperti pisau belati kecil untuk menunjukkan kehalusan watak dan kebangsawanan, contohnya Arjuna, Samba, Kresna
  2. Hidung Pelokan : Seperti separo bagian buah mangga, menunjukkan persamaan watak raksasa: kasar dan kuat. Contoh : Buto Rotor, Bragolba dll
  3. Hidung Panggotan : Dengan mulut gusen menunjukkan watak buas dan kejam. Contoh : Raden Indrajid dan Raden Kongso
  4. Hidung Bentulan : Mengungkapkan keprajuritan. Contohnya: Gatotkaca, Gondomono, Brotoseno
  5. Ada beberapa bentuk hidung yang menunjukkan kekonyolan atau kelucuan, tapi tidak dijelaskan bentuknya seperti Hidung Bruton yang dimiliki Bagong, hidung sumpelnya sumpel dan Limbuk, hidung terongnya gareng, hidung cempaluknya petruk, dan hidung pesekannya Togog, Mbilung, dan Wanoro
Garis mulut
  1. Mulut Domis : bentuk mulut yang memperlihatkan keelokan dan watak sensitive, merupakan bentuk mulut yang dimiliki Ksatria
  2. Gusen tanggung : menggambarkan watak sok serba tahu seperti mulutnya Sengkuni dan Kartomarmo
  3. Ngablak : terbuka dan kelihatan gusinya, menggambarkan watak raksasa  
Bentuk pelupuk mata
  1. Gabahan : seperti biji beras, mata para ksatria
  2. Kedhelen : seperti biji kacang, misalnya pada Setyaki, Baladewa
  3. Kedhondongan: Seperti biji Kedhondhong terdapat pada Sengkuni dan Kartomarmo
  4. Penanggal : bentuknya seperti bulan sabit, menunjukkan watak yang tidak bisa dipercaya seperti Buto cakil dan Pandito Durno
  5. Pelengan : Menggambarkan karakter bawaan yang kejam seperti pada Indrjid
  6. Kolikan: menggambarkan watak lucu, seperti pada Semar
  7. Plolo : menggambarkan watak yang bodoh dan mudah dibohongi, seprti matanya Bagong dan Togog
  Jadi orang yang membuat wayang tersebut tidak sembarangan membuat, tapi memiliki arti dari fisiknya.

  Pagelaran wayang yang dibawakan oleh seorang dalang dan diiringi oleh beberapa wiyaga serta sinden yang mengalunkan suaranya sebagai back song pada acara pagelaran tersebut, menyampaikan cerita lika-liku kehidupan manusia pada jaman dahulu hingga sekarang. Amanat yang disampaikan pun bersifat implisit atau tidak diterangkan secara langsung, melainkan kita sendiri yang mencari amanat tersebut. 

  Dapat kita cermati apa saja yang dapat kita pelajari dari runtutan cerita yang disampaikan oleh sang dalang. Seperti tokoh Pandawa yang memiliki sifat baik hati, tidak sombong dan bijaksana. Mereka selalu membela yang benar dan memerangi mereka yang tamak akan kehidupan dunia. Selalu welas asih, dan menyayangi satu sama lain. Sedangkan tokoh Kurawa yang memiliki ambisi yang kuat untuk menguasai dunia, mereka rela memerangi saudara mereka sendiri demi memenuhi keinginan mereka, selalu menganiaya siapapun yang menentang kenginan mereka. Jadi kita dapat meniru Pandawa dan menghindari sifat Kurawa.

JOGJA TEMPO DULU

STM 1 JEtis Tempoe dulu
yang ini foto sekolah ku dulu jaman sebelum jadi STM, nama nya dulu adalah Prcince Juliana School, sekarang jadi STM 1 Jetis, sekolahnya di Kota , tapi yang sekolah diana umumnya dari luar kota (bantul, kalasan, sleman pinggiran hehehhe)…

Kedaton Pleret.
Sekarang bangunan ini sudah tidak ada, dulunya (konon katane orang pleret) ada pabrik gula juga disini. bantul memang banyak pabrik gula, mulai dr madukismo , ganjuran, tanuditan.. tp sekarang sudah meninggalkan sektor pertanian.

Tugu Jogja,
jaman dahulu enak kalo foto2 di tugu, masih seoi, terus masih rindang, banyak becak…. nak punya mesin waktu pengen nang jogja jaman dahulu… skrg kalo foto2 harus malam, kalo siang ke senggol kendaraan…

Stasiun Tugu

venderbrug

taman sari (kanan kiri blm ramai )

pasar ngasem, jaman masih banyak pohon asem…

Malioboro, waktu masih sepi….

jaman belanda malioboro buat ngetem serdadu Londo, dan berfoto bersama..

pasar beringharjo,dahulu sudah ramai… sekarang sangat ramai..

Alun-alun utara
alun2 kidul
bank BNI jaman dahulu….

kantor Pos BEsar Jogja….

sungguh menarik kota jogja jaman dahulu, tenang, sejuk, damai,….bersih

MASIHKAH KOTA JOGJA KOTA PELAJAR ???

Sekian lama Kota Yogyakarta yang kaya akan kultur budaya ini disebut-sebut sebagai 'kota pelajar'. Banyak insan-insan yang berasal dari luar Daerah Istimewa Yogyakarta sengaja datang ke propinsi ini untuk mengenyam pendidikan di segala tingkatan, dari sekolah dasar, sekolah atas, maupun perguruan tinggi. Kualitas pendidikan di kota yang nyaman ini memang tergolong baik dan kompeten baik di tingkat nasional maupun internasional. Buktinya saja begitu banyak para pelajar di instansi-instansi pendidikan berlokasikan Daerah Istimewa Yogyakarta yang menjuarai berbagai olimpiade dan kompetisi baik tingkat nasional hingga internasional sekalipun. Sebuah prestasi yang memang patut dibanggakan mengingat gencarnya pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia menghendaki generasi-generasi penerus bangsa yang berkualitas dan memiliki daya saing.






Membicarakan tentang pelajar, meskipun berprestasi, tidak terpungkiri juga bahwa pelajar daerah berhati nyaman ini tidak luput dari tindakan-tindakan negatif yang dapat mencoreng nama Yogyakarta dari sebutan kota pelajar. Misalnya saja vandalisme yang kerap terjadi di sudut-sudut kota yang sesungguhnya indah dan bersih karena dijaga oleh masyarakat. Sudut-sudut kota ini namun pada akhirnya tak lagi indah, melainkan malah mengiritasi mata para insan yang memandangnya karena tindakan para pelajar yang semrawut. Berbagai macam tindakan vandalisme yang mereka lakukan, seperti mencoret-coret tembok warga atau rambu-rambu petunjuk lalu lintas, kerap kali menyulut emosi dari warga sekitar.


 

Tidak hanya sebatas vandalisme biasa, yang mereka lakukan berpotensi besar menyebabkan masalah yang jauh lebih pelik yakni perkelahian dan tawuran. Pasalnya, kerap kali mereka melakukan aksi mencoret-coret tembok warga di suatu daerah dengan menyertakan nama geng yang mereka ikuti. Vandalisme semacam ini pada umumnya dilakukan untuk menunjukkan wilayah kekuasaan geng-geng sekolah maupun geng-geng bebas yang saling berkompetisi satu sama lain. Misalnya saja seorang pelajar menuliskan nama geng yang dia ikuti di suatu wilayah, misalnya saja geng ABC, kemudian ada geng lain yang merasa bahwa wilayah itu adalah wilayahnya, pelajar dari geng lain tersebut kemudian akan mencoret nama geng ABC yang pertama kali menuliskan namanya di wilayah tersebut dan menuliskan gengnya sendiri di sana, misalnya DEF. Apabila geng ABC mengetahui bahwa nama gengnya dicoret oleh geng DEF dan amarah dari geng ABC tersulut, maka akan terjadi perkelahian untuk memperebutkan wilayah tersebut antara geng ABC dan geng DEF. Seperti drama klasik di setiap penjuru daerah, geng yang memenangkan perkelahian akan dianggap lebih berkuasa.


 

Tindakan balas dendam dan 'kroyokan' juga masih menjadi budaya geng-geng yang berseteru. Kebiasaan 'klithih' atau 'pencegatan' masih kerap ditemui di titik-titik tertentu Daerah Istimewe Yogyakarta. Pencegatan inilah yang selalu dicemaskan, bukan hanya bagi anggota geng, namun juga para pelajar biasa. Misalnya saja geng ABC kian berseteru dengan geng DEF. Misalnya saja geng ABC adalah geng yang terdiri dari pelajar SMA ABC. Geng DEF akan melakukan tidakan 'pencegatan' kepada setiap pelajar SMA ABC yang mereka temui dan melakukan introgasi kepada pelajar tersebut, apakah dia anggota dari geng atau bukan. Apabila diketahui dia anggota geng, maka dia akan menjadi bulan-bulanan geng DEF. Tidak jarang juga geng tersebut akan meminta seragam sekolah korban mereka secara paksa sehingga si korban pulang tanpa seragam sekolah. Seragam tersebut biasanya disimpan sebagai 'bukti' mereka mem-bully salah satu siswa dari sekolah musuh. Namun kini terasa sedikit lebih melegakan setelah pemerintah Kota Yogyakarta menyamakan tulisan pada badge lokasi seragam setiap pelajar sekolah negeri di Kota Yogyakarta, dari yang sebelumnya tertulis misalkan "SMA Negeri ..." kini seluruhnya tertulis "Pelajar Kota Yogyakarta".


 

Selain vandalisme, seperti pada postingan sebelumnya "ABG Undercover: Smoke, Sex, Sozzled", telah banyak disinggung juga bahwa banyak kalangan pelajar yang terjerumus ke hal-hal sesat yang sangat beresiko terhadap kehidupan mereka sendiri. Beberapa pelajar melakukan tindakan-tindakan yang menyalahi aturan baik sekolah maupun negara diluar kegiatan belajar-mengajar yang mereka ikuti secara rutin. Kualitas pelajar yang seperti ini sungguh sangat dipertanyakan. Mereka yang sebenarnya pintar dan berpotensi menjadi tersia-siakan. Rokok kerap kali men-trigger gangguan kesehatan tubuh mereka. Alkohol dapat berdampak negatif baik bagi kesehatan tubuh mereka ataupun kinerja otak mereka. Hubungan seks di bawah batasan umur yang sesuai juga dapat berdampak buruk pada organ reproduksi. Belum lagi narkoba yang dapat seketika menghentikan pertumbuhan otak para pelajar. Tak jarang penyebab para pelajar mengkonsumsi barang-barang haram ini berasal dari pengaruh pergaulan dengan geng-geng yang mereka ikuti. Kerap ditemukan adanya 'bandar' yang beroperasi di dalam geng-geng bebas maupun sekolah. Hal ini tidak hanya menjadi masalah di Kota Yogyakarta, namun telah menjadi masalah umum di kota-kota terkemuka seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya.

Hal ini sangat memprihatinkan mengingat sosok pelajar yang seharusnya lebih mencondongkan diri untuk menuntut pendidikan namun malah mengikuti organisasi-organisasi negatif dan ikut serta dalam perusakan fasilitas umum sekaligus perusakan diri mereka sendiri. Maka masih pantaskah Kota Yogyakarta disebut sebagai 'kota pelajar' dengan keadaan para pelajar yang terancam bahaya ini?


Misteri Dibalik Tugu Jogja

          Tugu Jogja merupakan salah satu dari beberapa landmark yang menjadi ciri khas Kota Yogyakarta, bahkan yang paling terkenal. Tugu yang berlokasi di perempatan Jl. Jenderal Soedirman, Jl. A.M Sangaji, Jl. Diponegoro dan Jl. Pangeran Mangkubumi ini pada awalnya dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwana I sekitar tiga abad yang lalu dengan makna simbolis menghubungkan Laut Selatan, Keraton Yogyakarta dan Gunung Merapi karena memang segaris lurus jika dilihat dari sisi tertentu.







          Pada awalnya, Tugu Jogja ini bernama Tugu Golong Gilig dengan tinggi sekitar 25 meter dengan bagian bawah yang menyerupai pagar melingkar, tiang berbentuk silinder (gilig) yang mengerucut ke semakin ke atas dan bentuk bulat (golong) di puncaknya. Dulunya tugu ini secara tegas menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti, semangat persatuan atara Sultan dan rakyat untuk melawan penjajahan yang pada tanggal 10 Juni 1867 sempat runtuh karena gempa, kejadiannya mirip dengan gempa pada 27 Mei 2006 lalu. Bangunan tugu ini direnovasi pada tahun 1889 oleh Opzichter van Waterstaat - Dinas Pekerjaan Umum JWS van Brussel pada era pemerintahan Belanda. Bentuknya sama sekali berbeda. Dari yang semula berdiri setinggi 25 meter menjadi hanya 15 meteran saja, lebih rendah sekitar sepuluh meter dari tinggi aslinya. Bentuk tugu menjadi persegi dengan tiap sisi dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi tersebut. Bentuk di bagian atas tugu inipun tidak lagi bulat, malainkan kerucut yang puncaknya runcing.




          Tugu yang dibangun oleh pihak Belanda sedemikian rupa itu bertujuan untuk mempengaruhi keadaan politik pada saat itu dan demi mengikis persatuan antara Sri Sultan dengan rakyat. Namun yang terjadi persatuan antara Sultan dengan rakyat tetap terjalin adanya sehingga sampai kinipun rakyat masih mempercayakan kekuasaan kepada Sri Sultan untuk memimpin dan membimbing Daerah Istimewa Yogyakarta.

           Tugu baru yang dibangun oleh pihak Belanda ini sering juga disebut sebagai De Witt Paal atau Tugu Pal (Pal sebenarnya juga berarti 'tugu', diadaptasi dari bahasa Belanda) Putih, karena dari dulu didirikan hingga kini selalu bercatkan warna putih.




            Beberapa puluh tahun silam, sempat beredar pembicaraan bertemakan konspirasi, terutama Yahudi. Banyak pihak pada waktu itu menyebutkan bahwa jaringan Yahudi sudah menjangkau wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Anehnya lagi, terdapat bentuk lambang Yahudi dan zionis (Bintang David) di Tugu Jogja yang nampak dengan sangat jelas karena bercatkan warna emas di setiap sisi-sisi tugu. Masih tidak diketahui apakah itu memang lambang Yahudi ataukah hanya sekedar kebetulan belaka. Beberapa masyarakat berpendapat mungkin hal ini dikarenakan Tugu Jogja yang sekarang ini adalah bangunan tugu yang dibangun oleh Belanda yang merupakan penyebab masuknya organisasi seperti Freemansory ke Indonesia. Lalu bagaimana menurut pendapat anda?