Barang siapa yang menghabiskan waktu berjam – jam lamanya untuk mengumpulkan harta kerana ditakutkan miskin, maka dialah sebenarnya orang yang miskin..

Jajat Awang Umbara

Sunset and sunrise always inspiring knocking the heart of my human being reminding me how small I am even time, is beyond our control we never know when will our time come smiling..

Albert Einstein

Ilmu pengetahuan tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan buta.

Jajat Awang Umbara

Sebuah seni dikatakan indah, karena kita mengetahui makna didalamnya, atau kita bisa mengambil inspirasi didalamnya.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 September 2018

Kisah Brigadir Polisi Tilang Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Tak tebang pilih dalam penegakan hukum. Itulah hikmah kisah yang ditulis Aryadi Noersaid ini. Cerita tentang seorang bintara polisi menilang Sultan Hamengku Buwono IX, Raja Tanah Jawa. Dan polisi pemberani itu adalah Brigadir Royadin, paman Aryadi Noersaid.

Kisah itu terjadi di Pekalongan, Jawa Tengah, pada pertengahan tahun 1960-an. Kala itu, jam baru menunjukkan pukul 5.30 WIB. Di pagi berkabut itu, Royadin, yang baru sepekan mendapat kenaikan pangkat dari agen polisi menjadi brigadir, sudah berada di pos jaga. Di Persimpangan Soko, yang mulai ramai dilalui delman dan becak.

Tiba-tiba, sebuah sedan hitam keluaran tahun 1950-an melaju pelan melawan arus. Kala itu, sangat jarang warga yang memiliki mobil. Sehingga, yang tengah berkendara itu pastilah bukan orang sembarangan. Namun demikian, nyali Royadin tak menjadi ciut. Dia menghentikan mobil yang melaju santai tersebut.

" Selamat pagi, bisa ditunjukan rebuwes," kata Royadin. Rebuwes merupakan surat kendaraan kala itu. Pengemudi mobil membuka kaca. Namun dada Royadin seolah terhentak. Seperti digebuk palu godam. Dia hampir pingsan setelah melihat siapa gerangan sang pengemudi itu. Dialah Sinuwun Sri Sultan Hamengku Buwono IX. " Ada apa pak polisi?" demikian tutur Sultan dengan sopan, setelah membuka pintu.

Tubuh Royadin masih gemetar. Namun dia segera siuman dari keterpanaan. Hatinya tetap bulat. Semua pelanggar harus ditindak. " Bapak melanggar verboden," kata Royadin. Royadin mengajak Sultan melihat papan tanda verboden itu. Namun ditolak. " Ya saya salah. Kamu yang pasti benar. Jadi bagaimana?" tanya Sultan.

Royadin agak kikuk. Pertanyaan itu sulit dia jawab. Dalam batin dia berkata, bagaimana bisa menilang seorang raja. Bagaimana bisa menghukum pahlawan Republik. Sementara, dia hanya polisi muda berpangkat brigadir. Namun Royadin heran mengapa Sultan tak memperkenalkan diri sebagai Raja, lantas meminta pelanggaran itu tak diurus dengan menggunakan kekuasaannya.

" Maaf, Sinuwun terpaksa saya tilang," kata Royadin. " Baik brigadir, kamu buatkan surat itu, nanti saya ikuti aturannya. Saya harus segera ke Tegal," jawab Sultan.

Dengan tangan bergetar Royadin membuatkan surat tilang, ingin rasanya tidak memberikan surat itu. Tapi dia sadar, tidak boleh memberi dispensasi. Yang membuatnya sedikit tenang, tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut Sultan minta dispensasi. Surat tilang diberikan dan Sultan segera melaju.

Royadin baru sadar setelah Sultan berlalu. Dia menyesal, berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya. Ingin rasanya dia mengambil kembali surat tilang Sultan dan menyerahkan rebuwes mobil yang ditahan. Tapi semua sudah terlanjur.

Saat apel pagi esok harinya, suara amarah meledak di Markas Polisi Pekalongan. Dari ruang Komisaris, nama Royadin disebut berkali-kali. Royadin langsung disemprot sang komandan dalam bahasa Jawa kasar.

" Royadin! Apa yang kamu perbuat? Apa kamu tidak berfikir? Siapa yang kamu tangkap itu? Siapaaa? Ngawur kamu! Kenapa kamu tidak lepaskan saja Sinuwun, apa kamu tidak tahu siapa Sinuwun?" teriak sang komisaris.

" Siap pak. Beliau tidak bilang Beliau itu siapa. Beliau mengaku salah, dan memang salah," jawab Royadin.

" Ya tapi kan kamu mestinya mengerti siapa dia. Jangan kaku. Kok malah kamu tilang. Ngawur, kamu ngawur. Ini bisa panjang, bisa sampai Menteri Kepolisian Negara," tutur sang Komisaris meledakkan amarahnya.

Setelah dimarahi, Royadin malah ditertawakan teman-temannya. Komisaris polisi Pekalongan berusaha mengembalikan rebuwes mobil pada Sultan Hamengku Buwono IX. Royadin pasrah saja, dia siap dihukum, siap dimutasi atau apapun. Yang pasti dia merasa sudah melaksanakan tugas sebagai seorang polisi.

Belakangan sebuah surat dikirim dari Yogya. Sultan meminta Brigadir Royadin dipindahkan ke Yogya. Sultan terkesan atas tindakan tegas sang polisi. Royadin diminta pindah beserta keluarganya. Sultan juga meminta pangkat Royadin dinaikkan satu strip di atas.

Permintaan ini sungguh istimewa. Sebuah permintaan luar biasa dari orang luar biasa. Namun Royadin akhirnya memilih berada di Pekalongan, tanah kelahirannya.

"Mohon Bapak sampaikan ke Sinuwun, saya berterima kasih. Saya tidak bisa pindah dari Pekalongan, ini tanah kelahiran saya, rumah saya. Sampaikan hormat saya pada Beliau dan sampaikan permintaan maaf saya pada Beliau atas kelancangan saya," pinta Royadin pada Komisaris.

Sultan pun menghormati pilihan Royadin. Royadin yang lahir di Batang, 1 Desember 1926 itu terus bertugas di Pekalongan. Pangkatnya pun hanya naik beberapa tingkat. Namun mungkin sosok polisi inilah yang paling diingat Sultan Hamengku Buwono IX seumur hidupnya.

Royadin bertugas sebagai polisi selama 21 tahun 1 bulan. Selain Pekalongan, dia pernah bertugas di Boyolali, Semarang, dan juga Batang, sebagai Kapolsek Warungasem. Dia pensiun dengan pangkat terakhir Pembantu Letnan Satu (Peltu).

Dia wafat di rumahnya yang beralamat di Gang Sriti RT 06/RW 06 No 53, Legoksari, Proyonanggan Tengah, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang, pada 14 Februari 2007, dalam usia ke 81 tahun. Dia dimakamkan di pemakaman umum dekat rumahnya, berdampingan dengan makam istrinya yang meninggal dua tahun setelahnya.


(Ism, Sumber: Merdeka.com dan RTMC Polda Jawa Barat)

Kamis, 26 April 2012

The Secret of WAYANG


  Salah satu dari sekian banyak kesenian yang berasal dari tanah Jawa yang membutuhkan waktu semalam suntuk, apalagi kalau bukan "pagelaran wayang kulit dan wayang tengul atau golek". Sebenarnya wayang itu ada 3 macam, yaitu: wayang orang, wayang kulit, dan wayang tengul atau sering disebut dengan wayang golek. Sesuai dengan namanya, wayang orang dimainkan oleh orang asli, sedangkan wayang tengul atau wayang golek dimainkan oleh orang-orangan dari kayu yang dibuat oleh ahli pahat.



 


























Gambar diatas merupakan contoh dari penggambaran wayang tengul (kiri) dan wayang orang (kanan).
   
  Persamaan dari semua wayang tersebut adalah tentang cerita yang mengangkat dari kehidupan manusia aslinya. Penokohannya pun juga di sesuaikan dengan sifat manusia pada aslinya. Sifat wayang tersebut dapat dilihat dari ciri-ciri fisiknya, yaitu:

Ciri Hidung :
  1. Hidung Walmiring : kelihatan seperti pisau belati kecil untuk menunjukkan kehalusan watak dan kebangsawanan, contohnya Arjuna, Samba, Kresna
  2. Hidung Pelokan : Seperti separo bagian buah mangga, menunjukkan persamaan watak raksasa: kasar dan kuat. Contoh : Buto Rotor, Bragolba dll
  3. Hidung Panggotan : Dengan mulut gusen menunjukkan watak buas dan kejam. Contoh : Raden Indrajid dan Raden Kongso
  4. Hidung Bentulan : Mengungkapkan keprajuritan. Contohnya: Gatotkaca, Gondomono, Brotoseno
  5. Ada beberapa bentuk hidung yang menunjukkan kekonyolan atau kelucuan, tapi tidak dijelaskan bentuknya seperti Hidung Bruton yang dimiliki Bagong, hidung sumpelnya sumpel dan Limbuk, hidung terongnya gareng, hidung cempaluknya petruk, dan hidung pesekannya Togog, Mbilung, dan Wanoro
Garis mulut
  1. Mulut Domis : bentuk mulut yang memperlihatkan keelokan dan watak sensitive, merupakan bentuk mulut yang dimiliki Ksatria
  2. Gusen tanggung : menggambarkan watak sok serba tahu seperti mulutnya Sengkuni dan Kartomarmo
  3. Ngablak : terbuka dan kelihatan gusinya, menggambarkan watak raksasa  
Bentuk pelupuk mata
  1. Gabahan : seperti biji beras, mata para ksatria
  2. Kedhelen : seperti biji kacang, misalnya pada Setyaki, Baladewa
  3. Kedhondongan: Seperti biji Kedhondhong terdapat pada Sengkuni dan Kartomarmo
  4. Penanggal : bentuknya seperti bulan sabit, menunjukkan watak yang tidak bisa dipercaya seperti Buto cakil dan Pandito Durno
  5. Pelengan : Menggambarkan karakter bawaan yang kejam seperti pada Indrjid
  6. Kolikan: menggambarkan watak lucu, seperti pada Semar
  7. Plolo : menggambarkan watak yang bodoh dan mudah dibohongi, seprti matanya Bagong dan Togog
  Jadi orang yang membuat wayang tersebut tidak sembarangan membuat, tapi memiliki arti dari fisiknya.

  Pagelaran wayang yang dibawakan oleh seorang dalang dan diiringi oleh beberapa wiyaga serta sinden yang mengalunkan suaranya sebagai back song pada acara pagelaran tersebut, menyampaikan cerita lika-liku kehidupan manusia pada jaman dahulu hingga sekarang. Amanat yang disampaikan pun bersifat implisit atau tidak diterangkan secara langsung, melainkan kita sendiri yang mencari amanat tersebut. 

  Dapat kita cermati apa saja yang dapat kita pelajari dari runtutan cerita yang disampaikan oleh sang dalang. Seperti tokoh Pandawa yang memiliki sifat baik hati, tidak sombong dan bijaksana. Mereka selalu membela yang benar dan memerangi mereka yang tamak akan kehidupan dunia. Selalu welas asih, dan menyayangi satu sama lain. Sedangkan tokoh Kurawa yang memiliki ambisi yang kuat untuk menguasai dunia, mereka rela memerangi saudara mereka sendiri demi memenuhi keinginan mereka, selalu menganiaya siapapun yang menentang kenginan mereka. Jadi kita dapat meniru Pandawa dan menghindari sifat Kurawa.

Misteri Dibalik Tugu Jogja

          Tugu Jogja merupakan salah satu dari beberapa landmark yang menjadi ciri khas Kota Yogyakarta, bahkan yang paling terkenal. Tugu yang berlokasi di perempatan Jl. Jenderal Soedirman, Jl. A.M Sangaji, Jl. Diponegoro dan Jl. Pangeran Mangkubumi ini pada awalnya dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwana I sekitar tiga abad yang lalu dengan makna simbolis menghubungkan Laut Selatan, Keraton Yogyakarta dan Gunung Merapi karena memang segaris lurus jika dilihat dari sisi tertentu.







          Pada awalnya, Tugu Jogja ini bernama Tugu Golong Gilig dengan tinggi sekitar 25 meter dengan bagian bawah yang menyerupai pagar melingkar, tiang berbentuk silinder (gilig) yang mengerucut ke semakin ke atas dan bentuk bulat (golong) di puncaknya. Dulunya tugu ini secara tegas menggambarkan Manunggaling Kawula Gusti, semangat persatuan atara Sultan dan rakyat untuk melawan penjajahan yang pada tanggal 10 Juni 1867 sempat runtuh karena gempa, kejadiannya mirip dengan gempa pada 27 Mei 2006 lalu. Bangunan tugu ini direnovasi pada tahun 1889 oleh Opzichter van Waterstaat - Dinas Pekerjaan Umum JWS van Brussel pada era pemerintahan Belanda. Bentuknya sama sekali berbeda. Dari yang semula berdiri setinggi 25 meter menjadi hanya 15 meteran saja, lebih rendah sekitar sepuluh meter dari tinggi aslinya. Bentuk tugu menjadi persegi dengan tiap sisi dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi tersebut. Bentuk di bagian atas tugu inipun tidak lagi bulat, malainkan kerucut yang puncaknya runcing.




          Tugu yang dibangun oleh pihak Belanda sedemikian rupa itu bertujuan untuk mempengaruhi keadaan politik pada saat itu dan demi mengikis persatuan antara Sri Sultan dengan rakyat. Namun yang terjadi persatuan antara Sultan dengan rakyat tetap terjalin adanya sehingga sampai kinipun rakyat masih mempercayakan kekuasaan kepada Sri Sultan untuk memimpin dan membimbing Daerah Istimewa Yogyakarta.

           Tugu baru yang dibangun oleh pihak Belanda ini sering juga disebut sebagai De Witt Paal atau Tugu Pal (Pal sebenarnya juga berarti 'tugu', diadaptasi dari bahasa Belanda) Putih, karena dari dulu didirikan hingga kini selalu bercatkan warna putih.




            Beberapa puluh tahun silam, sempat beredar pembicaraan bertemakan konspirasi, terutama Yahudi. Banyak pihak pada waktu itu menyebutkan bahwa jaringan Yahudi sudah menjangkau wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Anehnya lagi, terdapat bentuk lambang Yahudi dan zionis (Bintang David) di Tugu Jogja yang nampak dengan sangat jelas karena bercatkan warna emas di setiap sisi-sisi tugu. Masih tidak diketahui apakah itu memang lambang Yahudi ataukah hanya sekedar kebetulan belaka. Beberapa masyarakat berpendapat mungkin hal ini dikarenakan Tugu Jogja yang sekarang ini adalah bangunan tugu yang dibangun oleh Belanda yang merupakan penyebab masuknya organisasi seperti Freemansory ke Indonesia. Lalu bagaimana menurut pendapat anda?




Kamis, 12 April 2012

Grafiti

Grafiti

Grafiti (juga dieja graffity atau graffiti) adalah coretan-coretan pada dinding yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk, dan volume untuk menuliskan kata, simbol, atau kalimat tertentu. Alat yang digunakan pada masa kini biasanya cat semprot kaleng. Sebelum cat semprot tersedia, grafiti umumnya dibuat dengan sapuan cat menggunakan kuas atau kapur.

Sejarah

Kebiasaan melukis di dinding bermula dari manusia primitif sebagai cara mengkomunikasikan perburuan. Pada masa ini, grafitty digunakan sebagai sarana mistisme dan spiritual untuk membangkitkan semangat berburu.
Perkembangan kesenian di zaman Mesir kuno juga memperlihatkan aktivitas melukis di dinding-dinding piramida. Lukisan ini mengkomunikasikan alam lain yang ditemui seorang pharaoh (Firaun) setelah dimumikan.
Kegiatan grafiti sebagai sarana menunjukkan ketidak puasan baru dimulai pada zaman Romawi dengan bukti adanya lukisan sindiran terhadap pemerintahan di dinding-dinding bangunan. Lukisan ini ditemukan di reruntuhan kota Pompeii. Sementara di Roma sendiri dipakai sebagai alat propaganda untuk mendiskreditkan pemeluk kristen yang pada zaman itu dilarang kaisar.

Grafiti pada zaman modern

Adanya kelas-kelas sosial yang terpisah terlalu jauh menimbulkan kesulitan bagi masyarakat golongan tertentu untuk mengekspresikan kegiatan seninya. Akibatnya beberapa individu menggunakan sarana yang hampir tersedia di seluruh kota, yaitu dinding.


Pendidikan kesenian yang kurang menyebabkan objek yang sering muncul di grafiti berupa tulisan-tulisan atau sandi yang hanya dipahami golongan tertentu. Biasanya karya ini menunjukkan ketidak puasan terhadap keadaan sosial yang mereka alami.

Meskipun grafiti pada umumnya bersifat merusak dan menyebabkan tingginya biaya pemeliharaan kebersihan kota, namun grafiti tetap merupakan ekspresi seni yang harus dihargai. Ada banyak sekali seniman terkenal yang mengawali kariernya dari kegiatan grafiti.

Fungsi grafiti

  • Bahasa rahasia kelompok tertentu.
  • Sarana ekspresi ketidak puasan terhadap keadaan sosial.
  • Sarana pemberontakan.
  • Sarana ekspresi ketakutan terhadap kondisi politik dan sosial.

Hukum

Pada perkembangannya, grafiti di sekitar tahun 70-an di Amerika dan Eropa akhirnya merambah ke wilayah urban sebagai jati diri kelompok yang menjamur di perkotaan. Karena citranya yang kurang bagus, grafiti telanjur menjadi momok bagi keamanan kota. Alasannya adalah karena dianggap memprovokasi perang antar kelompok atau gang. Selain dilakukan di tembok kosong, grafiti pun sering dibuat di dinding kereta api bawah tanah.
Di Amerika Serikat sendiri, setiap negara bagian sudah memiliki peraturan sendiri untuk meredam grafiti. San Diego, California, New York telah memiliki undang-undang yang menetapkan bahwa grafiti adalah kegiatan ilegal. Untuk mengidentifikasi pola pembuatannya, grafiti pun dibagi menjadi dua jenis.